Wednesday, November 26, 2008

Beton


BETON
BAB I
Pendahuluan
1.1. Definisi Beton
1.2. Keuntungan dan Kekurangan Beton
1.3. Sifat-Sifat Beton
1.4. Macam-Macam Beton
1.1. Definisi Beton
Beton adalah bahan bangunan komposit yang terbuat dari kombinasi agregat dan pengikat semen.
1.2. Keuntungan dan Kekurangan Beton
Keuntungan Beton :
 Harganya relatif murah.
 Mempunyai kekuatan tekan yang tinggi, serta mempunyai sifat tahan terhadap pengkaratan atau pembusukan oleh kondisi lingkungan.
 Adukan beton mudah diangkut maupun dicetak.
 Kuat tekan beton jika dikombinasikan dengan baja akan mampu memikul beban yang berat.
 Adukan beton dapat disemprotkan di permukaan beton lama yang retak maupun diisikan ke dalam retakan beton dalam proses perbaikan.
 Biaya perawatan yang cukup rendah.
1.2. Keuntungan dan Kekurangan Beton
Kerugian Beton :
 Beton memiliki kuat tarik yang rendah sehingga mudah retak.
 Adukan beton menyusut saat pengeringan.
 Beton keras (beton) mengembang dan menyusut bila terjadi perubahan suhu.
 Beton sulit untuk kedap air secara sempurna.
 Beton bersifat getas/tidak daktail.
1.3. Sifat-Sifat Beton
Kuat Hancur
Durability (Keawetan)
Kuat tarik
Modulus Elastisitas
Rangkak (creep)
Susut
Kelecakan
1.4. Macam-Macam Beton
1. Beton Bertulang
2. Beton-Normal
3. Beton Polos
4. Beton Pracetak
5. Beton Prategang
6. Beton Ringan
7. Beton Ringan-Pasir
8. Beton Ringan-Total
BAB II
Bahan-Bahan Penyusun Beton
1. Semen
2. Agregat
3. Air
4. Baja Tulangan
5. Bahan Tambahan
1. Semen
Semen adalah bahan organik yang mengeras pada percampuran dengan air atau larutan garam.
1. Semen
Jenis-jenis semen menurut BPS :
Semen abu atau semen portland
Semen putih (gray cement)
Oil well cement
Mixed & fly ash cement
1. Semen
Semen yang biasa digunakan pada teknik sipil adalah semen portland. Pada umumnya semen portland yang digunakan adalah jenis semen portland biasa (ordinary cement portland), yaitu semen portland yang digunakan untuk tujuan umum.
1. Semen
Jenis semen portland dapat dibagi menurut beberapa segi :
Segi Kebutuhan Khusus
Segi Penggunaan
1. Semen
Segi Kebutuhan Khusus
 Semen Portland yang cepat mengeras (rapid hardening portland cement)
 Semen Portland tahan sulfat sedang dan semen Portland tahan sulfat
 Semen Portland Pozzolanic
 Semen Portland panas rendah (Low Heat Cement)
 Masonry Cement
 Semen Portland putih
1. Semen
Segi Penggunaan
 Type I
Semen portland penggunaan umum.
 Type II
Semen pengeras pada panas sedang.
 Type III
Semen portland dengan kekuatan awal tinggi.
 Type IV
Semen portland dengan panas hidrasi yang rendah.
 Type V
Semen portland tahan sulfat.
1. Semen
Proses pembuatan semen
Proses basah : semua bahan baku yang ada dicampur dengan air, dihancurkan dan diuapkan kemudian dibakar dengan menggunakan bahan bakar minyak, bakar (bunker crude oil).
Proses kering : menggunakan teknik penggilingan dan blending kemudian dibakar dengan bahan bakar batubara. Proses ini meliputi lima tahap pengelolaan yaitu :
 proses pengeringan dan penggilingan bahan baku di rotary dryer dan roller meal.
 proses pencampuran (homogenizing raw meal) untuk mendapatkan campuran yang homogen.
 proses pembakaran raw meal untuk menghasilkan terak (clinker : bahan setengah jadi yang dibutuhkan untuk pembuatan semen).
 proses pendinginan terak.
 proses penggilingan akhir di mana clinker dan gypsum digiling dengan cement mill.
2. Agregat
Agregat adalah material granular, misalnya pasir, kerikil, batu pecah, dan kerak tungku pijar, yang dipakai bersama-sama dengan suatu media pengikat untuk membentuk suatu beton atau adukan semen hidrolik.
2. Agregat
2. Agregat
Agregat terbagi dua, ada agregat halus dan agregat kasar.
Agregat halus berupa pasir alam sebagai hasil disintegrasi 'alami' batuan atau pasir yang dihasilkan oleh industri pemecah batu dan mempunyai ukuran butir terbesar 5,0 mm.
Agregat kasar berupa kerikil sebagai hasil disintegrasi 'alami' dari batuan atau berupa batu pecah yang diperoleh dari industri pemecah batu dan mempunyai ukuran butir antara 5 mm sampai 40 mm. Ukuran maksimum nominal agregat kasar harus tidak melebihi:
 1/5 jarak terkecil antara sisi-sisi cetakan, atau
 1/3 ketebalan pelat lantai, atau
 3/4 jarak bersih minimum antara tulangan-tulangan atau kawat-kawat, bundel tulangan, atau tendon-tendon prategang atau selongsong-selongsong.
2. Agregat
Klasifikasi Agregat :
1) Agregat Menurut Asalnya
2) Agregat Menurut Berat Jenisnya
3) Agregat Menurut Bentuknya
4) Agregat Menurut Tekstur Permukaan
2. Agregat
1) Agregat Menurut Asalnya
a. Agregat Alam
 Kerikil dan Pasir Alam
 Agregat Batu Pecah
 Agregat Batu Apung
b. Agregat Buatan
2. Agregat
2) Agregat Menurut Berat Jenisnya
a. Agregat Ringan
b. Agregat Normal
c. Agregat Berat
2. Agregat
3) Agregat Menurut Bentuknya
a. Bulat
b. Bersudut
c. Pipih
d. Memanjang (Lonjong)
2. Agregat
4) Agregat Menurut Tekstur Permukaan
a. Agregat dengan permukaan mengkilat
b. Agregat dengan permukaan kasar
c. Agregat dengan permukaan licin
d. Agregat dengan permukaan berbutir
e. Agregat dengan permukaan berpori dan berongga
3. Air
Beton menjadi keras karena adanya reaksi antara semen dan air. Oleh karena itu, air yang dipakai untuk mencampur kadang-kadang mengubah sifat semen. Secara sederhana, air yang paling baik digunakan dalam campuran beton adalah air yang dapat diminum.
4. Baja Tulangan
Dalam beton bertulang, baja itu mempunyai kedudukan yang penting. Jadi perlu diperhatikan untuk selalu memakai baja yang bermutu tinggi. Ia harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
Batas regang = 22 kg/mm2
Kekuatan putus = 34 kg/mm2
Regang pecah = 24%
Kita umumnya memakai baja bulat. Perekatan dari beton pada batang-batang ini adalah sangat baik. Ongkos-ongkos dari baja ini lebih rendah daripada ongkos-ongkos dari batang-batang dengan profil-profil istimewa.
4. Baja Tulangan
Selain baja bulat, terdapat juga jenis-jenis yang luar biasa. Ini mencoba mendapatkan perekatan yang lebih besar dari beton dengan membuat bidangnya tidak rata bulat. Beberapa contoh baja lainnya antara lain :
 Baja Johnson
Penampangnya persegi, dibubuhi punggung-punggung.
 Baja Ransome
Penampangnya persegi dan ditordir.
 Baja Isteg
Terdiri dari 2 batang baja bulat yang dililitkan dengan mesin.
 Baja silang bertordir (Drillwulsststahl)
Baja dengan penampang berbentuk silang.
 Baja Tor
Baja bulat yang dibubuhi punggung uliran sepanjang kelilingnya.
 Baja profil lainnya (profil I, profil H, profil C, profil ^, dsb)
4. Baja Tulangan
Untuk konstruksi-konstruksi yang memerlukan tulang-tulang silang, umpamanya dinding-dinding dan langit-langit dapat dipergunakan kasa kawat dengan nama Baustahlgewebe (buatan Jerman).
4. Baja Tulangan
Selain baja, bambu pun bisa digunakan sebagai tulangan pada beton. Bambu yang digunakan penampang lintangannya harus bergaris tengah minimum 8 cm, jenis bambu yang tahan lama adalah :
 Jenis barang besar: bambu batang dan bambu gombong
 Jenis Sedang: Bambu andong dan bambu temen
 Jenis Kecil: Bambu apus dan bambu tali
5. Bahan Tambahan
Bahan tambahan yang dicampur pada adukan beton yang dimaksud untuk memperoleh sifat-sifat khusus dalam pengerjaan, waktu pengikatan, pengerasan dan maksud-maksud lain dari beton.
5. Bahan Tambahan
Secara garis besar, bahan tambahan digunakan untuk :
 Mengurangi jumlah air yang dipakai
 Memperlambat proses pengikatan dan pengerasan beton
 Mempercepat proses pengikatan dan pengerasan beton
 Berfungsi ganda,mengurangi air dan sekaligus memperlambat proses pengikatan dan pengerasan beton
BAB III
Susunan Beton
3.1. Perbandingan-Perbandingan Campuran
3.2. Kandungan Air
3.1. Perbandingan-Perbandingan Campuran
Susunan beton itu harus sedemikian rupa, sehingga didapat kepadatan yang sebesar-besarnya.
Untuk membuat 1 m3 beton diperlukan lebih dari 1 m3 bahan-bahan. Dalam praktek 1 m3 memerlukan kurang lebih 1,55 m3 bahan-bahan, oleh karena pori-porinya harus tertutup. Jadi 1 m3 bahan-bahan menghasilkan kurang lebih 0,645 m3 beton.
3.1. Perbandingan-Perbandingan Campuran
Untuk perbandingan pasir : kerikil atau batu pecah telah ditetapkan 1 : 1 sampai 1 : 1,5 , sehingga susunannya dapat dipilih antara perbandingan-perbandingan batas a dan b dalam daftar berikut ini.
3.1. Perbandingan-Perbandingan Campuran
Untuk pekerjaan-pekerjaan dalam air laut atau dalam air agresif lainnya dapat dipakai lebih banyak semen menurut perbandingan. Dalam hal-hal demikian dianjurkan untuk mengambil susunan kurang lebih 1 : 1,5 : 3.
3.2. Kandungan Air
Air yang harus ditambahkan pada campuran kering, terutama diperlukan untuk mengeraskan beton. Untuk ini diperlukan kurang lebih 0,35 kali beratnya semen.
Untuk beton dalam pekerjaan-pekerjaan bangunan diperlukan lebih banyak air. Untuk menyatakan banyaknya air pembuat biasanya kita pakai pengertian faktor air semen (faktor air semen = f.a.s.). faktor itu diciptakan oleh Abrams. F.a.s. ini ialah suatu bilangan tak bernama.
3.2. Kandungan Air
Untuk beton kenyal, yang baik untuk beton bertulang, kita ambil f.a.s. = 0,65 – 0,75. Kalau beton itu harus dituangkan dengan menggunakan selokan-selokan, sehingga ia harus dapat mengalir, kita ambil beton cair dengan menggunakan f.a.s. dari 0,8 – 0,9. Selanjutnya banyaknya air pembuat itu bergantung pada suhu selama menuang, dari banyaknya semen dan dari perbandingan butir dari bahan-bahan tambahannya.
3.2. Kandungan Air
Misalkan bahwa kita ingin membuat beton dari susunan 1 : 2 : 3 dengan f.a.s. = 0,7 maka kita memerlukan air pembuat sebanyak 0,7 X 325 = 227, 5 l.
Kalau kita harus perhatikan kelengasan pasir, kita bekerja sebagai berikut : Satu liter pasir lengas kita timbang ; misalkan berat itu = 1200 g. Pasir ini dikeringkan betul-betul dan ditimbang lagi.
Kalau kita dapatkan kurang lebih 1140 g, maka dalam pasir itu terdapat:
60 g uap basah atau dalam bagian-bagian berat 60/1140 = 5,3% dari berat kering atau dalam ukuran isi 0,06 1 tiap liter pasir. 1 m3 beton berisi 0,06 X 520 = 31 l air sehingga masih di perlukan air pembuat sebanyak 227 – 31 = 196 l, kalau dengan pasir lengas ini ingin dipertahankan f.a.s. = 0,7.
BAB IV
Kesimpulan
Kesimpulan
Beton (concrete) adalah satu bahan yang paling banyak pemakaiannya di seluruh dunia selain baja dan kayu.
Bahan beton dipakai secara luas di dunia sebagai bahan konstruksi. Beton dapat dibuat dengan berbagai mutu, sedangkan mutu itu sendiri biasanya dinyatakan dengan kekuatan beton tersebut dalam menahan gaya tekan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi mutu beton meliputi perbandingan air/semen, jenis semen yang digunakan, ada atau tidaknya bahan tambahan, agregat yang digunakan, kelembaban dan suhu ketika pengeringan, umur beton maturitas dan kecepatan pembebanan.
SEKIAN

3 comments:

  1. bisa minta sumber nya gk??

    ReplyDelete
  2. sumber apa mas????
    ini makalah dari tugas kuliah saya

    ReplyDelete
  3. agak banyak ulasannya lagi lbh baik.

    ReplyDelete